Kongregasi “Schwestern vom Armen Kinde Yesus”

Kongregasi “Schwestern vom Armen Kinde Yesus”

Berawal dari Clara Fey yang dilahirkan di Aachen, Jerman, pada tahun 1815. Melalui jeritan anak-anak yatim dan miskin, pada tahun 1837, Clara Fey menyewa sebuah ruangan membuka sekolah miskin bagi anak-anak telantar yang berkeliaran di jalan-jalan kota Aachen dan mendirikan sebuah rumah yatim. Tugas mulia tersebut dilakukan bersama tiga orang sahabat putri dan didukung oleh beberapa imam.

Untuk kesempurnaan pelayanan mereka, kelompok kecil menyatukan diri dalam suatu persekutuan hidup membiara. Pada tanggal 2 Februari 1844 terbentuklah kongregasi “Schwestern vom Armen Kinde Yesus” yang berarti “Para Suster dari Kanak-Kanak Yesus yang miskin”. Bagi Clara Fey, nama tersebut mengungkapkan karya-karya kerasulan kongregasinya, yakni pendidikan Kristiani anak-anak dan kaum muda, terutama mereka yang miskin dan telantar. Kongregasi yang didirikan itu direstui oleh Sri Paus pada tanggal 12 Mei 1869 sebagai persekutuan religius kepausan. Sekarang kongregasi ini telah tersebar di Jerman, Luxemburg, Belanda, Belgia, Perancis, Inggris, Letlandia, Amerika Serikat, Amerika Latin: Kolombia dan Peru, Austria, Spanyol, Kasachstan dan Indonesia.

Di Indonesia, nama kongregasi tersebut diterjemahkan menjadi “Suster Sang Timur” dan mulai berkarya pada tahun 1932 di Pasuruan, Jawa Timur. Pada tahun 1937 dibuka novisiat bagi putri-putri Indonesia yang terpanggil untuk berbakti melalui karya Kongregasi Suster Sang Timur. Berkat lindungan Tuhan dan kekuatan Sabda Yesus: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (MANETE IN ME), Kongregasi Suster Sang Timur terus mekar dan berkembang dengan didirikannya biara dan sekolah-sekolah di Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI-Banten, DIY, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur. Di Indonesia berpusat di Malang.

Semangat persaudaraan, kegembiraan dan kesederhanaan merupakan kultur Sang Timur yang dihayati dalam pelayanan pada anak-anak dan kaum muda yang miskin baik miskin materiil, miskin rohani, dan miskin kasih sayang.

Iklan

Lomba Adiwiyata 2018

 

11111

Sekolah berbasis Adiwiyata saat ini mulai digalakkan di Kota Malang. Apa sebenarnya sekolah berbasis Adiwiyata itu? Adiwiyata merupakan salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dengan harapan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif. Sekolah berbasis Adiwiyata pada awalnya memang digalakkan dan dilombakan untuk sekolah-sekolah negeri. Namun karena dilihat dari kebermanfaatannya, maka sekolah berbasis Adiwiyata dilombakan baik untuk negeri maupun swasta. Demikian pula dengan SMPK Sang Timur Malang yang telah mengikuti Adiwiyata tingkat kota pada tanggal 17 Januari 2018. Ada pun yang dilombakan dibagi menjadi beberapa komponen, yaitu:

  • Kebijakan Berwawasan Lingkungan
  • Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan
  • Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipatif
  • Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan

Masing-masing pokja diserahkan kepada para siswa dan didampingi oleh seorang Bapak/Ibu guru untuk membimbing dan mengarahkan. Dalam hal ini, para siswa yang ditunjuk sebagai kader dari masing-masing pokja, mereka melakukan mulai dari persiapan yang akan dinilai sampai menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para juri terkait perkembangan Adiwiyata di SMPK Sang Timur.

Lomba sekolah berbasis Adiwiyata memang baru pertama kali diikuti SMPK Sang Timur Malang. Namun dalam hal ini, kami berupaya untuk menyukseskan lomba ini. Juara bukanlah hal yang utama bagi kami tetapi pengalaman merupakan hal yang paling berharga, dan menyadarkan pada seluruh warga sekolah pentingnya menjaga dan melestarikan sekolah berbasis lingkungan. (elok)